Kamis, 21 Februari 2013

LAPORAN HASIL PENELITIAN SISTEM PENCERNAAN PADA HEWAN


 
Kata Pengantar
Alhamdulillahi Rabbil Alamin.

Puji syukur Penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena berkatNyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan hasil pratikum ini. Tak lupa pula kita kirimkan shalawat dan salam atas junjungan Rasulullah SAW yang telah membawa kita dari Alam yang gelap gulita menuju alam yang terang benderang
Dalam penyusunan laporan hasil pratikum ini tentu saja jauh dari kesempurnaan. Kerena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik demi penyempurnaan dan perbaikan tugas ini.
Akhirnya, kepada seluruh pihak yang turut memberikan partisipasi dalam terwujudnya hasil pratikum ini, tak lupa pula kami mengucapkan terima kasih
Mudah-mudahan laporan pratikum ini dapat bermanfaat dan dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut.


Penulis
(Kelompok II)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sistem pencernaan (bahasa Inggris: digestive system) adalah sistem organ dalam hewan multisel yang menerima makanan, mencernanya menjadi energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut melalui dubur. Sistem pencernaan antara satu hewan dengan yang lainnya bisa sangat jauh berbeda.
Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia terjadi di sepanjang saluran pencernaan (bahasa Inggris: gastrointestinal tract) dan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu proses penghancuran makanan yang terjadi dalam mulut hingga lambung. Selanjutnya adalah proses penyerapan sari-sari makanan yang terjadi di dalam usus. Kemudian proses pengeluaran sisa - sisa makanan melalui anus.
Struktur alat pencernaan berbeda-beda dalam berbagai jenis hewan, tergantung pada tinggi rendahnya tingkat organisasi sel hewan tersebut serta jenis makanannya. pada hewan invertebrata alat pencernaan makanan umumnya masih sederhana, dilakukan secara fagositosis dan secara intrasel, sedangkan pada hewan-hewan vertebrata sudah memiliki alat pencernaan yang sempurna yang dilakukan secara ekstrasel.[2]Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengamati macam-macam sistem pencernaan pada kelas, reptil, aves, mamalia. 
B. TUJUAN PEMBEDAHAN
          Tujuan dilakukan pembedahan adalah untuk mengetahui sistem pernafasan dan sistem pencernaan di setiap hewan yang kita bedah (reptil, , mamalia).

BAB II PEMBAHASAN

Sistem pencernaan (bahasa Inggris: digestive system) adalah sistem organ dalam hewan multisel yang menerima makanan, mencernanya menjadi energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut melalui dubur. Sistem pencernaan antara satu hewan dengan yang lainnya bisa sangat jauh berbeda.
Secara spesifik, sistem pencernaan berfungsi untuk mengambil makanan, memecah nya menjadi molekul nutrisi yang lebih kecil, menyerap molekul tersebut ke dalam alirah darah, kemudian membersihkan tubuh dari sisa pencernaan [1].
organ yang termasuk dalam sistem pencernaan terbagi menjadi dua kelompok:
A.  Saluran pencernaan
Saluran pencernaan merupakan saluran yang kontinyu berupa tabung yang dikelilingi otot. Saluran pencernaan mencerna makanan, memecah nya menjadi bagian yang lebih kecil dan menyerap bagian tersebut menuju pembuluh darah. Organ-organ yang termasuk di dalam nya adalah : mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus serta usus besar. Dari usus besar makanan akan dibuang keluar tubuh melalui anus.
B.  Organ pencernaan tambahan (aksesoris)
Organ pencernaan tambahan ini berfungsi untuk membantu saluran pencernaan dalam melakukan kerjanya. Gigi dan lidah terdapat dalam rongga mulut, kantung empedu serta kelenjar pencernaan akan dihubungkan kepada saluran pencernaan melalui sebuah saluran. Kelenjar pencernaan tambahan akan memproduksi sekret yang berkontribusi dalam pemecahan bahan makanan. Gigi, lidah, kantung empedu, beberapa kelenjar pencernaan seperti kelenjar ludah, hati dan pankreas.
Alat respirasi pada hewan bervariasi antara hewan yang satu dengan hewan yang lain, ada yang berupa paru-paru, insang, kulit, trakea, dan paruparu buku, bahkan ada beberapa organisme yang belum mempunyai alat khusus sehingga oksigen berdifusi langsung dari lingkungan ke dalam tubuh, contohnya pada hewan bersel satu, porifera, dan coelenterata. Pada ketiga hewan ini oksigen berdifusi dari lingkungan melalui rongga tubuh.


BAB III METODE PENELITIAN

A. ALAT DAN BAHAN

1.    ALAT :                                                                             
         2 buah pinset
         2 buah pisau bedah
         2 buah gunting bedah
         6 buah pentul
         talang bedah
         spoit
         masker
         sarung tangan
         kapas
         obat bius
2.   BAHAN :
         1 ekor tikus putih
         1 ekor cicak
         1 ekor  kodok


B. PROSES PENGERJAAN

1. MAMALIA
A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah talang bedah, gunting, pinset, pisau, dan jarum pentul.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah seekor Cavia porcellus (Marmut/tikus).

B. Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Sebelum dilakukan pembedahan, Marmut dibius terlebih dahulu.
2. Rambut-rambut pada bagian ventral dibasahi agar waktu pembedahan rambut-rambut tersebut tidak beterbangan.
3. Kulit dipotong mulai dari posterior di muka penis atau clitoris menuju ke anterior mengikuti garis medio ventral badan sampai ke ujung mandibulla.
4. Kulit dibuka ke samping sampai otot-otot daerah abdomen dan thorax terlihat.
5. Pembedahan daerah abdomen dimulai dari daerah inguinal menuju anterior mengikuti garis medan badan kemudian dilanjutkan ke lateral menyusuri diafragma sehingga otot daerah abdomen dapat dikuakkan dan organ-organ yang ada pada rongga abdomen dapat terlihat.
6. Organ-organ yang terlihat diamati dan dituliskan sebagai keterangan pada gambar yang ada pada diktat praktikum.

C. PEMBAHASAN
Mamalia adalah vertebrata yang tubuhnya tertutupi oleh rambut. Kelenjar mamae dipunyai oleh hewan betina yang tumbuh baik untuk menyusui anaknya. Anggota gerak depan dapat bermodifikasi untuk berlari, menggali lubang, berenang dan terbang. Kulit marmut terdapat kelenjar keringat dan kelenjar minyak (Brotowidjoyo, 1990). Mamalia dibedakan atas caput, truncus dan cauda. Caput dihubungkan dengan truncus oleh leher, rongga thoraic dan carvum pericardi. Skeleton humanium dapat dibagi dalam skeleton trunci, cingulum membri inferioris dan skeleton membri liberi (Radiopoetro, 1990).
Cavia porcellus menurut Moment (1967) dan Djuhanda (1981) termasuk ordo rodentia yang merupakan anggota mamalia yang bagian caecumnya berkembang lebih baik dari semua mamalia yang ada dalam satu spesies, jumlahnya kira-kira mencapai tiga ribu jenis. Sistem pernafasan yaitu trachea, glottis, laring. Glotis adalah lubang masuk dari faring ke trachea. Pangkal trachea yang melebar seperti kotak dinamakan larings. Bagian ini tidak hanya untuk lewatnya udara saja, tetapi juga berguna sebagai alat suara.
Sistem pencernaan pada marmut antara lain terdiri atas oesophagus, lambung dan usus, dengan oesophagus terletak di sebelah dorsal dari trachea, melewati rongga dada kemudian menembus diafragma untuk masuk masuk ke lambung. Lambung terletak di belakang diafragma sebelah kiri rongga abdomen, usus terletak sesudah lambung, dapat dibedakan menjadi usus halus dan usus kasar, usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu duodenum, jejunum dan ileum yang batasnya tidak dapat dibedakan. Lambung dan duodenum dihubungkan dengan suatu lubang yang disebut pilorus yang dindingnya terdiri dari otot sfingster yang dapat membuka dan menutup, sedangkan usus kasar terdiri dari caecum, colon dan rectum, serta berakhir pada anus (Djuhanda, 1980).
Marmut termasuk mamalia, yaitu hewan yang memiliki kelenjar mamae untuk menyusui anaknya sebagai makanan pertama setelah mereka dilahirkan. Ciri lain yang khas dari mamalia adalah tubuhnya dilindungi oleh rambut, kulit mengandung bermacam-macam kelenjar, jari kaki mempunyai cakar, kuku, dan telapak. Kaki beradaptasi untuk berjalan, memanjat, menggali tanah, loncat.  Marmot merupakan hewan berdarah panas (Brotowidjoyo, 1993).
Marmut (Cavia porcellus) merupakan hewan pentadactil (memiliki jari-jari yang bercakar), lengan bawah dapat pronasi dan suprinasi. Hewan ini tidak berekor dan glandula mamae untuk menyusui anaknya. Uterusnya bertipe dupleks, merupakan tipe yang paling primitif dimana bagian kanan dan kiri uterus terpisah oleh adanya vagina pada hewan betina (Radiopoetro, 1986).
Cavia porcellus memiliki sistem urogenitalia yang terdiri dari sistem urinaria dan sitem genitalia. Menurut Walter dan Sayles (1959) salah satu alat ekskresi pada mamalia adalah ginjal yang disebut metanerfos. Jumlah nefron pada mamalia sangat besar, laju metabolisme yang tinggi menghasilkan limbah yang besar. Tubulus yang menghasilkan urin mengalir ke dalam ureter yang berkembang sebagai suatu pertumbuhan dari saluran arkinefrik. Urutan evolusi ginjal adalah holonefros, opistonefros, dan metanefros. Perkembangan embrio mammalia terdapat mesoderm nefrogenik (mesoderm ginjal) timbul di sebelah dorsal sepanjang embrio, tetapi hanya bagian paling belakang yang berkembang menjadi metanefros dewasa.
Sistem genitalia Cavia porcellus jantan dibangun oleh sepasang testis yang bentuknya bulat telur berwarna putih, terletak dalam rongga perut. Epididymis terdiri dari caput, corpus, cauda epididymis. Ductus deferens berupa saluran berjalan disebelah dorsal dari kantung urine dan bermuara pada ductus spermatikus yang terdapat pada batang penis. Sepasang papilla mammae (muara glandula mammae) terletak diantara kaki belakangnya, namun pada hewan jantan, glandula mammae tidak melakukan sekresi. Bagian belakang penis terdapat lekuk pirenium yang merupakan lekukan yang dalam dan nampak selalu kotor. Lekuk ini merupakan tempat bermuara kelenjar bau yang digunakan sebagai tanda pengenal spesies dan hedonik atau pemikat lawan jenis. Sistem genitalia betina pada marmut tersusun atas beberapa organ, yaitu ovarium, tuba falopi, oviduct (Weichert, 1984).
Sistem urinaria dibangun oleh sepasang ginjal yang berwarna merah tua, berbentuk seperti kacang, terletak di daerah lumbar sebelah dorsal dari rongga abdomen dan saluran pelepasan yang merupakan bagian medial ginjal berupa hilus tempat keluarnya urine. Kelanjutan dari ginjal adalah ureter saluran yang bermuara pada vesica urinaria aitu tempat penampungan urine sementara yang  akhirnya urin akan dikeluarkan melalui uretra (ductus urospermatika) keluar tubuh (Jasin, 1989).
2.     AMFIBI
A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah talang, pisau (cutter),gunting, pinset dan jarum pentul;.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah seekor kodok.

B. Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. kodok ibius terlebih dahulu, sebelum melakukan percobaan.
2. beberapa bagian di jepit dengan pentul agar memudahkan kita untuk membedahnya
3.  kemudian, bagian kulitnya di tarik dan mulai membedah perut
4. Pembedahan dilanjutkan sepanjang carina sterni dengan menggunakan cutter. Gallus gallus domesticus dikuak sejauh mungkin. Bagian-bagiannya diamati.
5. Bagian perut dibedah untuk mengamati organ dalamnya dimulai dari depan kloaka menuju ke depan ke kanan dan kiri bagian sternum dengan memotong rusuk-rusuk sampai ke tulang fruktura.
6. Organ yang terlihat diamati dan dituliskan sebagai keterangan pada gambar yang ada pada diktat praktikum.


C. PEMBAHASAN
Kodok merupakan salah satu jenis hewan amfibi atau hewan yang hidup di dua alam, hewan amfibitermasuk hewan vertebrata atau bertulang belakang. Hewan amfibi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. pernafasan dengan insang,kulit,paru-paru
  2. jantung amfibi terdiri dari tiga ruang yang terdiri dari 2 serambi dan 1 bilik
  3. mempunyai system pendengaran,yaitu berupa saluran auditori yang disebut tympanum
  4. hewan berdarah dingin
  5. matanya mempunyai selaput yang yang dinamakan membrane niktitans
  6. pembuahan terjadi secara eksternal
  7. kulit berlendir
  8. mempunyai selaput renang pada bagian kakinya
  9. saat masih kecil amfibi bernafas dengan insang.
Kodok memiliki system pencernaan seperti  esophagus,lambung,usus,usus tebal dan kloaka.
Kelenjar pencernaan pada katak  terdiri atas hati dan pancreas, hati berwarna merah kecoklatan,terdiri  atas lobus kanan yang terbagi lagi menjadi dua lubulus. Hati berfungsi mengeluarkan empedu yang disimpan dalam kantong empedu yang berwarna kehijauan. Pancreas berwarna kekuningan, melekat di antara lambung dan usus dua belas jari. Pancreas berfungsi menghasilkan enzim dan hormone  yang bermuara pada usus dua belas jari.
Bagian muka vrentikulus yang disebut cardiac,sedangkan  bagian posterior mengecil dan berakhir dengan pyloris. Kontraksi dinding otot ventrikulus meremas makanan jadi hancur dan dicampur dengan sekresi ventriculus yang mengandung enzim atau verment yang merupakan katalisator. Tiap-tiap  enzim merubah sekelompok zat makanan menjadi ikatan-ikatan yang lebih sederhana. Enzim yang dihasilkan oleh ventrikulus  dan intestinum terdiri : pepsin,tripsin,erepsin untuk protein, lipase untuk lemak. Disamping itu ventrikulus menghasilkan asam klorida untuk mengasamkan bahan makanan. Gerakan yang  menyebabkan bahan makanan berjalan dalam saluran disebut gerak peristalsis. Beberapa  penyerapan  zat makanan terjdi di ventrikulus tetapi  terutama terjadi di intestinum. Makanan masuk kedalam intestinum dari ventrikulus  melalui klep pyloris.
Amfibi adalah satwa vertebrata dengan jumlah jenis terkecil, yaitu sekitar 4,000 jenis. Walaupun sedikit, amfibi merupakan vertebrata pertama yang berevolusi untuk kehidupan di darat dan merupakan nenek moyang reptil. Dari ketiga Ordo tersebut, salamander adalah satu-satunya kelompok yang tidak terdapat di Indonesia. Salamander dijumpai di Amerika utara dan tengah sampai Amerika Selatan bagian utara, Eropa, Afrika, Jepang dan Taiwan.

Ordo Gymnophiona juga dikenal dengan nama lain sesilia. Ordo ini terdiri dari 34 genera dan 5 famili. Jumlah jenis dari Ordo tersebut adalah sebanyak 163 jenis, atau sekitar 3.5% dari seluruh jenis amfibi. Satwa dari Ordo Gymnophiona memiliki tubuh panjang tanpa kaki, seperti cacing. Ciri-ciri seperti bentuk tulang, gigi dan lemak dalam tubuh menyerupai amfibi, sehingga sesilia termasuk dalam kelas tersebut. Sebagian besar sesilia berwarna abu-abu kebiruan. Ukurannya berkisar dari 7 cm sampai 1.5 m. Satwa sesilia jarang ditemui. Ordo Gymnophiona tersebar di Asia Tenggara, Amerika Tengah dan Selatan, serta Afrika Tengah. Di Asia Selatan sesilia terdapat dari bagian selatan Cina, India, Sri Lanka sampai Filipina selatan. Di Indonesia sesilia terdapat di pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan.

Katak dan kodok adalah anggota dari Ordo Anura. Untuk penjelasan seterusnya, kelompok ini akan disebut katak. Ordo tersebut terdiri dari 20 famili dengan 303 genera. Saat ini terdapat lebih dari 4,100 jenis Anura di dunia, atau sekitar 87% dari semua jenis amfibi. Indonesia memiliki sekitar 376 jenis amfibi (IUCN 2007). Jumlah jenis amfibi terus bertambah dengan adanya penemuan jenis-jenis baru.

Katak dan kodok merupakan amfibi yang paling mudah dikenal. Kata “anura” berarti “tanpa ekor”. Anura dewasa tidak memiliki ekor. Tubuh katak tampak seperti berjongkok dengan empat kaki. Kaki depan berukuran lebih kecil daripada kaki depan. Kaki belakang berfungsi untuk melompat. Kepala katak tidak dipisahkan dari badan oleh leher yang jelas. Katak memiliki mata yang besar dengan pupil horizontal atau vertikal.

Katak dan kodok berbeda dari ciri katak yang memiliki kulit tipis dan halus, tubuh ramping, dan kaki yang lebih kurus dan panjang. Kodok memiliki tubuh yang lebih pendek dan gemuk dengan kulit kasar dan tertutup bintil-bintil. Warna katak bervariasi, dari hijau, coklat, hitam, merah, oranye, kuning dan putih. Ukuran SVL (snout vent length) Anura berkisar dari 1-35 cm, tetapi kebanyakan berkisar antara 2-12 cm.

Morfologi katak berbeda tergantung pada habitatnya. Katak pohon seperti famili Rhacophoridae memiliki piringan (discs) pada ujung jarinya untuk membantu dalam memanjat. Katak akuatik atau semi-akuatik seperti famili Ranidae memiliki selaput diantara jari-jarinya untuk membantu dalam berenang. Katak terestrial tidak memiliki selaput ataupun piringan, tetapi cenderung memiliiki warna yang menyerupai serasah atau lingkungan sekelilingnya, seperti pada genus Megophrys.

Katak dan kodok tersebar pada seluruh benua kecuali pada kedua kutub dan daerah gurun yang sangat kering, dengan lebih dari 80% dari seluruh jenis terdapat di daerah tropik dan sub-tropik. Kelompok ini terdapat di seluruh Indonesia, dari Sumatra sampai Irian.


3.     REPTIL
A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah talang, pinset, pisau, gunting bedah dan jarum pentul.
Bahan yang digunakan adalah cicak/kadal .

B. Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :                             
1. Kadal yang sudah dibius menggunakan obat bius, kemudian di letakan pada talang.
2. Bagian kepala langsung di amati tanpa di lakukan pembedahan terlebih dahulu.
3. Pembedahan dimulai dengan pengguntingan di depan lubang kloaka ke sisi kiri dan kanan tubuh kearah depan melewati kaki sampai ke tengah rahang bawah.
4. Bagian- bagian dari kadal diamati dan dicatat pada gambar yang sudah di sediakan dengan di dampingi asisten.

C. PEMBAHASAN
Kadal tergolong ordo squamata yang mencakup 6.000 species yang masih hidup. Kadal yang memiliki sub-ordo lacertilian mencakup kira-kira 180 species dan sekitar 20 genus yang tersebar di seluruh Eropa, Asia, dan Afrika. Kebanyakan kadal merupakan penghuni permukaan tanah, meskipun sebagian memiliki kebiasaan memanjat pada pepohonan maupun bebatuan (Djuhanda, 1982).
Warna sisik pada tubuhnya tergantung dari umur, jenis kelamin, dan keadaan fisiologis tubuhnya. Kadal jantan memiliki kepala yang besar dari kepala betina. Ekornya secara khas mirip cambuk dan bentuknya bulat dan panjang meruncing ke ujungnya dan mudah putus. Perbedaan antara kadal betina dan kadal jantan adalah pada kadal jantan terdapat sepasang testis, sedangkan pada kadal betina memiliki ovarium. Kadal jantan testis yang sebelah kiri lebih tinggi daripada testis yang sebelah kanan, sepasang ginjal dan hemipenis. Kadal betina memiliki sepasang ostium tuba, oviduct, dan ovarium (Bratowidjoyo, 1993).
Sistem pencernaan kadal dibangun oleh kelenjar racun dari kelenjar saliva. Mulut mamalia mengeluarkan cairan enzim pencernaan. Modifikasi racun saliva terdapat 2 perbedaan racun, tergantung pada jenis kadal (Moment, 1967).
Paru-paru kadal sudah berkembang baik dan ukurannya cukup besar. Bagian sirkulasi  kadal berupa jantung yang dibungkus membran transparan (pericardium) dan dibatasi oleh endokardium. Sistem respiratoria terdiri dari struktur yang terletak diantara nostril dan paru-paru yaitu glottis dan laring (Parker dan Hanswell, 1962).
Respirasi dimulai dengan masuknya udara ke nares externa kemudian masuk ke nares interna melalui glottis sebagai celah lingua menuju ke laring. Laring tersusun atas tiga buah tulang rawan dan berisi beberapa pasang pita suara. Menuju trakhea yang bercabang menjadi dua bronchi yang kemudian masing-masing menuju paru-paru (Jasin, 1989).
Sistem urogenital kadal terdiri dari sepasang ginjal, dari ginjal keluar ureter yang bermuara di kloaka. Pada pangkal ureter terdapat vesica urinaria. Organ urogenital jantan terdiri atas sepasang testis, epidermis, vas deferens, dan sepasang hemipenis. Hemipenis merupakan alat kopulasi yaitu untuk memasukkan sperma dalam tubuh kadal betina, sehingga kadal jantan mengadakan fertilisasi internal (Jasin,1989)
Rahang pada mulut kadal bermacam-macam bentuknya sesuai dengan bentuk dan ukuran giginya. Ekskresi kadal adalah semisolid seperti burung dan kebanyakan reptil lainnya. Kadal jantan mempunyai 2 hemipenis yang terletak di samping kloaka (Storer dan Usinger, 1961).
Hasil pengamatan kadal (Mabouya multifasciata) jantan didapatkan bahwa pada kulit kadal terdapat squamae epididimis. Hal itu sesuai dengan pernyataan Radiopoetra (1997), bahwa squamae pada kadal berbentuk tanduk dan terletak pada lapisan dernal yang menulang. Lapisan terluar dari integumentum yang menanduk tidak mengandung sel-sel saraf dan pembuluhan darah, bagian inti mati, dan lama-lama akan mengelupas. Permukaan lapisan epidermal mengalami keratinitasi, lapisan keratin ini ikut hilang apabila kadal berganti kulit.


 


BAB IV PEMBAHASAN

TABEL PENGAMATAN

TABEL PENGAMATAN

HEWAN

PERBEDAAN

JENIS KELAMIN

ORGAN-ORGAN TUBUH
HAL-HAL YANG MENARIK YANG DI TEMUKAN
1. TIKUS
Berjenis kelamin betina
Jantung, paru-paru, lambung, usus besar, usus halus, hati, pancreas, ginjal, kantong kemih, dan alat reproduksi
- Tikus memiliki diafragma yang berfungsi memisahkan antara rongga dada dan rongga perut.
-  Posisi lambung, hati dan pangkreas itu saling berdekatan
2. kodok
Berjenis kelamin betina
Osaphagus,ventrikulus(lambung),
Intestinum,usus tebal  dan kloaka
-lambung yang bila diisi makanan akan membesar
-paru-paru pada kodok berwarna pink dan permukaannya seperti liur
-memilki usus tebal
3. CICAK
Berjenis kelamin betina
Jantung, paru-paru, gijal, empedu, hati, usus halus, usus besar,  dan telur
- semua organnya memanjang termasuk hati dan ginjalnya.
- kaki cicak itu memiliki senyawa yang dapat melekat pada dinding.





HEWAN  PERBEDAAN
               
JENIS KELAMIN
ORGAN-ORGAN TUBUH               HAL-HAL YANG MENARIK YANG DI TEMUKAN

  1. TIKUS Berjenis kelamin betina Jantung, paru-paru, lambung, usus besar, usus halus, hati, pancreas, ginjal, kantong kemih, dan alat reproduksi         
- Tikus memiliki diafragma yang berfungsi memisahkan antara rongga dada dan rongga perut.
-  Posisi lambung, hati dan pangkreas itu saling berdekatan
  1. kodok  berjenis kelamin betina, hati menempel pada paru-paru dan empedu tertutupi oleh hati, lambung berada tepat di bawah paru-paru sebelah kanan.
  2. CICAK Berjenis kelamin betina Jantung, paru-paru, gijal, empedu, hati, usus halus, usus besar,  dan telur             
- semua organnya memanjang termasuk hati dan ginjalnya.
- kaki cicak itu memiliki senyawa yang dapat melekat pada dinding.

BAB V  PENUTUP

  1.  KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum dengan cara pembedahan kami dapat menyimpulkan bahwa ternyata sistem pernafasan dan sistem pencernaan pada hewan itu berbeda-beda, dari segi bentuk dan fungsi masing-masing. Sistem pencernaan mamalia, aves, dan reptile itu berbeda yang di sebabkan oleh makan mereka.
      
  1. SARAN
Untuk melakukan pembedahan awal pada hewan sebaiknya dilakukan terlebih dahulu dibagian bawah didekat anus/bagian atas didekat kepala untuk menghindari organ-organ yang akan rusak pada hewan yang akan dibedah. Selain itu kebersihan dan kesterilan dari alat-alat juga harus dijaga.

BAB VI DAFTAR PUSTAKA

        http://id.wikipedia.org
        http://bebas.vlsm.org

 
LAMPIRAN
TIKUS/MARCIT
              SEBELUM DI BEDAH                                                          SESUDAH DI BEDAH





KODOK

        
                SEBELUM DI BEDAH                                                        SESUDAH DI BEDAH
CICAK/KADAL

 
                SEBELUM DI BEDAH                                      SESUDAH  DI BEDAH



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar